Tampilkan postingan dengan label andrea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label andrea. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Oktober 2013




Andrea Hirata
Di buku pertama dalam dwilogi Padang Bulan, Andrea membunuh ayah Enong, pada buku selanjutnya di Cinta di Dalam Gelas, Andrea kembali menumpuk kesedihan Enong / Maryamah dengan membunuh Ibunda tercinta. “Andrea kau apa-apaan?”, Pekikku dalam hati ketika aku mendengar berita duka atas kepergian Syalimah.

Masih ingat catatan saya sebelumnya tentang Padang Bulan? ahhh, disana sudah saya sampaikan bahwa Andrea memanfaatkan kisah kesedihan Enong untuk menarik minat pembaca agar terus mengikuti kisahnya, mengikuti kisah dalam artian bahwa, pembaca tidak sekadar membaca untuk menghabiskan cerita, tapi dengan sebuah iming-iming imajinasi cerita selanjutnya akan dibuat seperti apa oleh si empunya cerita.

Tulisan ini saya kerjakan setelah (baru saja) menuntaskan Cinta di Dalam Gelas. Perlu dimaklumi bahwa diri saya pribadi bukanlah seorang pengamat sastra, atau seorang mahasiswa komunikasi yang konsen pada kajian sastra, bukan pula seorang budayawan junior, saya juga bukan mahasiswa yang hapal satu diantara sekian banyak teori sastra, bahkan mendefinisikan sastrapun saya tidak istiqamah.

Maka maafkanlah kenaifan catatan saya ini selanjutnya.

Hal yang lekat di kepala saya setelah menuntaskan dwilogi Padang Bulan, adalah cara Andrea menyajikan kisahnya, bagaimana dia mengatur sistematika cerita dengan beberapa jedah atau intermezo. Hal ini bisa kita rundingkan, bahwa Andrea Hirata menampilkan sebuah pembukaan yang manis pada dua buku ini. Andai saja saya mengerti teori bermain catur, maka saya akan menganalogikan bahwa pembukaan yang dilakukan Andrea dalam bukunya tersebut adalah salah satu jenis pembukaan catur, sayang saya tidak mengerti.

Pembukaan (cerita) Andrea pada masing-masing buku sudah mapan, dan sangat kuat (menarik perhatian pembaca untuk mengetahui kisah selanjutnya), seperti yang bisa kita dapatkan di buku Padang Bulan, dimana kisah dramatis keluarga Zamzami mengajak kita bersimpati kepada keluarga tersebut, dan bersimpatilah kita pada Syalimah dan anak anaknya, serta tidak lepas di benak kita bagaimana sepeda SIM KING itu menyimpan kisah yang lebih luar biasa dari apa yang diceritakan Andrea. Selain sepeda, adapula Kamus Bahasa Inggris Satu Milyar Kata, benda yang sangat biasa bagi orang kota, kita pasti cekikikan membayangkan ini.

Dalam buku ke duanya, Cinta di Dalam Gelas, Andrea lagi-lagi memanfaatkan kehidupan keluarga Syalimah sebagai tumpuan yang menguatkan kisah selanjutnya. Syalimah, Ibu dari Maryamah telah berpulang, maka semakin serulah kisah-kisah selanjutnya, kira-kira seperti itu pikiranku ketika mulai membacanya.

Dengan Pembukaan cerita yang kuat, Andrea tidak lagi memiliki beban berat bagaimana mempertanggung jawabkan alur ceritanya nanti. Seperti ketika si Enong menikah dengan Matarom kemudian cerita selanjutnya adalah pertarungan keluarga ini yang dilampiaskan dalam pertandingan catur. dalam alur cerita itu, Andrea tidak melulu menceritakan mereka, melainkan ia menceritakan realitas yang jauh berhubungan dengan mereka, salah satunya adalah warung Kopi sellain politik.

Disinilah kekagumanku pada Andrea Hirata, orang aneh yang sebenarnya ingin aku jumpai tapi tidak usahlah (orang biasa seperti saya ini sulit bertatap muka dengan bintang papan atas di jaman sekarang ini, Boi), Setelah ia membangun pondasi cerita pada segmen pembukaan, dia mendapatkan kebebasan untuk menceritakan banyak hal yang menjadi isi atau pesan untuk para pembaca.

Lihat saja, bagaimana dia menyampaikan sistem kebudayaan orang melayu dengan memanfaatkan kisah sedih keluarga Zamzami, bagaimana ia mempublikasikan kehidupan multikultural dan multi agama dalam kisah percintaannya pada A Ling, dan luar biasa benar bukan?. Andrea dalam kepalaku ini telah berhasil mengamalkan jurus “Pandangan pertama begitu mempesona”, atau “pandangan pertama takkan terlupakan”.

Demikian kiranya, hal utama yang saya dapatkan dari Dwilogi ini, bahwa Pembukaan sangatlah penting, mungkin pemikiran seperti inilah yang dipikirkan pendahulu kita sehingga UUD 45 memiliki pembukaan, dan pada pembukaan itulah semua pasa mengikat diri. Jika dalam al-Qur’an, mungkin seperti al-Fatihah sebagai Ummul Qur’an.

Andea Andrea Andrea, Ohh Andrea. Kau mulai menjadi bagian dalam kisah hidupku. Kau memang kalah bertanding catur melawan Zinar, tapi aku anggap kau adalah pecatur yang handal, aku melihatnya ketika kau menngerakkan ceritamu ini sama seperti seorang pecatur profesional memainkan biduknya.

Akhirnya, aku mendoakanmu, semoga Ikal dan A Ling dalam kisahmu itu dapat bersatu padu, Jayalah Melayu.
Read More..

Sabtu, 14 September 2013

Andrea Hirata tampil lebih gila dan kejam dalam dwilogi Padang Bulan (entah bagaimana aksinya pada Cinta di Dalam Gelas). Sebelum mampu menaksir arah atau alur cerita, dia sudah membunuh seseorang dengan sangat menyedihkan, Ayah Enong mati tertimbun, kematian Ayah Enong sungguh menyisakan kesan yang sangat dramatis. Dan kegilaan Andrea Hirata semakin menguasai saya.

Drama penuh kesedihan dan kesengsaraan Andrea tidak terus berlanjut hingga akhir ceriteranya di Padang Bulan, ia meletakkan kisah tentang percintaan Ikal dan A Ling, dan kisah yang diceritakan persoalan cinta mereka sangat besar porsinya.

pembaca akan berpikiran bahwa Padang Bulan adalah novel yang akan membicarakan kenyataan hidup yang menyedihkan, kisah kehidupan Enong sebagai Pendulang Timah wanita pertama, atau kisan tentang Bahasa Inggris yang diminati Enong. Tapi ternyata tidak, tidak sama sekali.

Andrea Hirata sangat kejam, ia membunuh seorang yang berhati mulia (ayah Enong) untuk menarik simpati pembaca agar semua ceriteranya habis terbaca. Disinilah kegilaan Anrea dalam pikiran saya, bahwa Andrea tidak lagi mengacuhkan mana kesedihan, mana kesengsaraan, mana cinta, mana perhatian kasih sayang, mana kebahagiaan, dan dimana api pembangkit semangat. ia mencampur-aduknya menjadi satu dalam kenyataan sebuah novel.

Disini pulalah kekaguman saya dengan Andrea, Sangat picik dalam menyampaikan cerita menjadikan saya merasa lelah karena terombang ambing oleh perasaan yang menghantam saya saat menemukan kalimat baru yang sangat menarik. Diaantara kalimat-kalimat yang dihamburkan Andrea, hati saya mendapati tiga kata bahasa Inggris yang sangat berkesan, yaitu Sacrifice, Honesty, Freedome.
Bukan karena kata itu baru aku tahu artinya sebagaimana Enong, bukan pula karena saya memang senang dengan kata-kata yang mengandung nuansa perlawanan, namun karena kata itu ditembakkan oleh andrea kepada saya pada saat yang tepat, perlu diingan bahwa kadang sesuatu itu tergantung pada ketepatan waktu bukan takdir.
Read More..

Senin, 12 Agustus 2013

“Ia adalah lelaki yang baik dengan cinta yang baik. Jika kami duduk di beranda, ayahmu mengambil antip dan memotong kuku-kukuku. Cinta seperti itu akan dibawa perempuan sampai mati”

Jika dikatakan bahwa novel ini (dwilogi Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas) untuk mejawab rasa penasaran sebagian besar pembaca karena kisah di dalam Maryamah Karpov tidak tuntas memang ada benarnya. Novel kedua yang berjudul Cinta di Dalam Gelas menurutku justeru lebih pantas diberi judul tersebut. Di novel inilah sepak terjang Maryamah digambarkan dengan jelas bukan hanya sekilas seperti dalam Maryamah Karpov.

Jika dibandingkan dengan tetralogi sebelumnya, dwilogi ini terasa lebih nakal. Andrea membebaskan dirinya untuk bermain-main dengan bahasa yang lebih berani. Ini bisa dimaklumi mengingat spirit awal penulisan tetralogi Laskar Pelangi adalah sebagi persembahan kepada guru tercinta mereka Bu Muslimah. Sedangkan dwilogi ini sepertinya memanfaakan momentum dan latar Laskar Pelangi sebagai dasar cerita saja sehingga Andrea memiliki sedikit beban moral untuk bersantun dalam bahasa.

Novel ini masih mengusung tema pergulatan seseorang yang tidak kenal menyerah dalam mengatasi kesulitan hidup. Dia yang sudah miskin secara struktural menjadi lebih terhimpit lagi ketika nasib tidak berpihak kepada dirinya. Ketika sandaran hidup mereka justru menginggalkan mereka maka dialah yang harus berjuang untuk melepaskan atau menahan himpitan kemiskinan tersebut.

Hebatnya diantara pergulatan melawan himpitan kemiskinan tersebut dia masih memiliki resolusi hidup atau semacam life list (hal-hal penting yang ingin mereka capai dalam hidup) yang justeru melampaui status/kondisi sosialnya. Bayangkan seorang penambang timah tradisional memiliki keinginan dan kegigihan yang tinggi untuk belajar Bahasa Inggris. Meskipun untuk itu dia harus menempuh jarak sejauh 100 km di akhir pekan ke tempat kursus.

Kesan yang mendalam dan mengaduk-aduk emosi justru kita temukan di awal, Mosaik 1 yang berjudul Lelaki Penyayang. Dari sebuah narasi menggelikan yang membuat kita terkekeh (terutama jika kita pernah menaksir lawan jenis di usia remaja) berakhir dengan tragedi menyedihkan yang mebuat mata kita berkaca-kaca. Kejutan yang seharusnya menjadi saat paling membahagiakan bagi sebuah keluarga sederhana justeru berubah menjadi kejutan akibat malapetaka.

Kisah Enong (nama panggilam Maryamah) saja sebenarnya layak dijadikan tema sentral Padang Bulan. Sementara kisah cinta Ikal dangan A Ling justeru menjadikan novel ini terasa bertele-tele. Nampaknya Andrea hendak memuaskan pembacanya sekaligus. Pertama rasa penasaran pembaca tentang Maryamah. Yang kedua akhir dari kisah cinta Ikal dan A Ling.

Bagi mereka yang belum pernah membaca Laskar Pelangi beberapa bab/mosaik akan terasa membingungkan karena dia memakai alur balik. Beberapa bab/mosaik itu menceritakan saat-saat Ikal masih bersekolah di Sekolah Dasar.

Seperti yang dikatakan Andrea Hirata ini adalah novel kultural yang hendak memotret kehidupan orang Melayu (Belitong). Hal itu tergambar secara sempurna dalam novel kedua Cinta di Dalam Gelas. Orang Melayu yang memiliki budaya lisan sangat tinggi menemukan tempat yang pas untuk “melestarikan” budaya tersebut di warung kopi. Lihatlah bagaimana penasarannya seorang isteri tentang rasa kopi dari warung kopi yang katanya lebih enak dari kopi buatannya. Kemudian diam-diam dia membeli kopi dari warung kopi dan membawanya pulang dengan harapan suaminya tidak ngopi di warung. Tapi apa kata suaminya, kopi tersebut tidak seenak kopi buatan warung kopi.

Di novel kedua inilah Maryamah mendapatkan nama belakang Karpov karena memakai metode pertahanan permainan catur ala Anatoly Karpov. Maryamah memakai permainan catur sebagai medium perlawanan terhadap hegemoni atau kesewenang-wenangan beberapa orang (lelaki) terhadap dirinya di masa lalu. Kesewenang-wenangan yang mengakibatkan trauma berkepanjangan dalam hidupnya. Dengan kemenangan dari permainan catur itulah Maryamah mengusir trauma yang menghantui hidupnya sekian lama.

Dua buah novel yang digabung menjadi satu (bundling) terhitung sebagai hal baru bagi dunia buku Indonesia, setidaknya dalam kurun terakhir ini. Dengan harga 76.500 (toko buku) atau 65.025 (toko buku online) terbilang cukup murah untuk novel yang lumayan tebal ini (lebih tebal dari Laskar Pelangi).

Resensi ini disunting dari Sini .
Read More..

Sabtu, 03 Agustus 2013

Teman-teman pengunjung Download Buku Gratis. Bagi teman-teman yang tahu link Download novel Padang Bulan dan Cinta di dalam Gelas, tolong di-share. Terima kasih.

Untuk sementara, kami belum dapaat menyedialan link download novel dwilogi Padang Bulan & Cinta di dalam Gelas karya Andrea Hirata.
Read More..
FOOTER