Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Oktober 2013

 Halman ini adalah area tukaran link kawan-kawan pengunjung blog download buku gratis.

Pengen tukaran link dengan blog Download Ebook Gratis ??? Baca ini dulu yah :D

A
Adjie Brotots |
B

C

D
Download Ebook Gratis (PR 3)

E


F


G


H


I


J

K


L


M


N


O


P


Q

R
Raja Ebook Gratis |


S

T

U


V


W


X


Y


Z
Read More..

Minggu, 20 Oktober 2013

Laskar Pelangi, adalah novel yang sangat inspiratif, diantara uangkapan-ungkapan alimat yang disampaikan dalam buku itu, terdapat deretan semangat yang disampaikan oleh penulis buku. Andrea Hirata.

Laskar Pelangi adalah novel pertama karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2005. Novel ini bercerita tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di sebuah sekolah Muhammadiyah di pulau Belitong yang penuh dengan keterbatasan.

Cerita terjadi di desa Gantong, Kabupaten Ganong, Belitung Timur. Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau tidak mendapatkan siswa baru minimal 10 anak. Parahnya, pada hari pendaftaran, cuma 9 anak yang datang pada waktu itu, dengan kenyataan seperti ini, semua yang ada di ruangan itu dengan rela menerima kenyataan ini, kecuali Bu Mus.

Drama yang terjadi, dimana kenyataan yang mereka alami di hari itulah yang menjadi akar dari cerita panjang Andrea Hirata. Hari itu, ketika pak Harfan telah berdiri dan mulai membawakan pidato penutupan sekolah, tiba-tiba kedatangan "tamu" yang telah lama ditunggu.

Dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempat duduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa di mana A Kiong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru mereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas yang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar, pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah!

Selamat mendownload...



Read More..

Senin, 09 September 2013

Buku berjudul Dasar-dasar Ilmu Politik oleh Miriam Budiarjo

Read More..

Jumat, 06 September 2013

Buku Zaman Peralihan karya Soe Hok Gie kini dapat dinikmati secara gratis. Silahkan baca beberapa buku-buku Soe Hok Gie yang tersedia di blog ini;



Keyword : Soe Hok Gie Sekali Lagi | Catatan sang Demonstran
Read More..

Kamis, 05 September 2013

Judul resensi asli: Romantisme Tragis Dibalik Perang Bubat
 
Perang Bubat (buku Gajah Mada 4 oleh Langit Kresna Hariadi) adalah salah satu tonggak sejarah yang amat penting, kisahnya menjadi pewarna perjalanan Nusantara. (Perang Bubat) Perang yang mengawali kehancuran Majapahit itu menyisakan luka yang amat dalam bagi Jawa dan Sunda. Ini adalah akhir konflik kerajaan Majapahit dan Sunda Galuh, sekaligus kesalahan fatal Mahapatih Gajah Mada di akhir karier-nya yang gilang gemilang.

Sumber permasalahannya sebenarnya adalah kecantikan yang membawa luka. Adalah seorang sekar kedaton Sunda Galuh bernama Dyah Pitaloka Citraresmi memiliki kecantikan yang luar biasa yang terdengar hingga pelosok nusantara. Pada saat itu pula, Prabu Hayam Wuruk sudah cukup umur untuk memiliki seorang permaisuri. Tim intelijen dikerahkan untuk mencari gadis cantik yang cocok dijadikan isteri sang raja, dan salah satunya adalah Dyah Pitaloka.

Namun demikian, ketika antar keluarga saling menyetujui, Mahapatih Gajah Mada memiliki pemikiran lain. Ia memandang bahwa Sunda Galuh harus takluk saat itu juga dan Dyah Pitaloka dianggap sebagai putri seserahan, bukan sebagai calon isteri yang berderajat sama. Perang berkobar yang berujung pada bunuh dirinya Dyah Pitaloka, menyebabkan konflik pribadi Prabu Hayam Wuruk dengan Gajah Mada.

Mengapa Dyah Pitaloka Sampai Bunuh Diri?
Nampaknya tidak ada sumber sejarah yang menerangkan hingga detail apa motivasi Dyah Pitaloka bunuh diri. Pemahaman umum yang berkembang adalah karena putus asa karena semua keluarganya yang bertempur dengan gagah berani telah dibunuh pasukan Bhayangkara Majapahit. Celah ini, seperti ketika novel-novel bercerita tentang kisah cinta Gayatri (permaisuri Rajapatni — isteri Raden Wijaya/Kertarajasa Jayawardhana), dimanfaatkan oleh penulis untuk memasukkan drama romantis yang tragis.

Langit Kresna Hariadi, dalam novel Perang Bubat, mengisahkan bahwa Dyah Pitaloka sebenarnya sudah terlanjur jatuh cinta kepada seorang rakyat jelata bernama Saniscara. Saniscara telah menumpahkan perasaan cintanya dengan cara yang paling mengagumkan yang bisa dibayangkan wanita mana pun: lukisan. Goresan-goresan dalam kanvasnya ditorehkan dengan penuh gairah. Dan ternyata cinta yang paling murni dari dua anak manusia ini bersambut, tetapi tidak mungkin bersatu karena faktor politik dan kedudukan serta derajat yang berbeda. Ini memberikan ruang bagi pembaca untuk bereksplorasi tentang apakah cinta harus dihalangi oleh norma-norma seperti itu.

Saya membayangkan, biar bagaimanapun juga, Dyah Pitaloka adalah seorang putri raja. Saya membayangkan ia adalah gadis yang dewasa (kenapa novel selalu melukiskan putri raja itu cantik dan manja?). Ia menyadari ia adalah kunci politik yang berharga dalam hubungan diplomatik dua negara. Jika pernikahannya dengan Prabu Hayam Wuruk bisa menyelamatkan Sunda Galuh dari posisi takluk sebagai negara jajahan, ia akan menekan segala perasaan dan mengutamakan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan cinta pribadinya. Toh, Prabu Hayam Wuruk kan raja yang tampan juga.

Jika ternyata kemudian ia telah ditelikung, dicurangi oleh Mahapatih Gajah Mada, dan keluarganya habis terbunuh, harga dirinya lah yang membuat ia lebih baik mati daripada harus menjadi putri seserahan. Jika keluarganya telah bersikap patriotik heroik, mengapa ia tidak melakukan jalan yang sama? Berdasarkan ini, saya memaklumi putri Sunda yang cantik itu mengambil keris kecil dan menusuk dadanya sendiri.

Tinggal Prabu Hayam Wuruk yang termenung sendirian. Ia memang telah dibakar oleh cinta pada pandangan pertama. Bagaimana pun juga, ia adalah negarawan yang masih berusia pemuda. Masih bergejolak. Itulah awal konfliknya dengan Gajah Mada. Dan mundurnya Gajah Mada dari kancak politik membuat Majapahit tidak menemukan negarawan sehebat dirinya. Itulah awal kemunduran kejayaan Majapahit yang akhirnya runtuh dan digantikan rezim kerajaan-kerajaan Islam (Demak Bintoro).

Sumber resensi dari Sini
 
Download Ebook Gratis Disini
Read More..

Rabu, 21 Agustus 2013

“Ah, sebenarnya aku mau saja menyerahkan diri. Tetapi aku bingung, menyerahkan diri pada siapa? Sosok Negara tidak aku rasakan di Nusantara ini. Apakah ini sebuah Negara? Tidak, ini hanyalah sebuah sirkus dari pasar malam yang akan segera dilupakan. Kau melepaskan kebebasanmu jika menjadi warga Negara. Kau akan kehilangan logika jika percaya pada demokrasi dan perwakilan. Dan yang paling bodoh, kau akan kehilangan akal sehat jika member mandate pada badut-badut di senayan sana…".

Demikian sebuah pernyataan dalam percakapan antara Kalek dan Batu, Kalek mengeluarkan kata-kata itu dengan tenang sementara dia dalam kuasa Batu. Ungkapan Kalek tersebut juga menggambarkan bagaimana ke dua tokoh ini berperan dalam kisah Rahasia Meede, Batu adalah seorang Intelejen dan Kalek adalah seorang tersangka teroris.

Ke dua pemeran ini bermain atau dimainkan dengan cerdas dalam setiap kisah, ketika mereka berdua saling tarik-menarik logika kebenaran, dimana Batu sebagai Intelejen adalah penegak kebenaran dan Kalek adalah pendosa yang menebarkan anarki di pelosok Nusantara. Namun, apakah memang benar seperti itu, dimana tersangka atau pelaku teror adalah seorang penjahat yang harus diberangus, sementara aparat penegak hukum atau pembela kebenaran, adalah nabi dimana kebenaran bertumpu?.

Tentu bukan hanya mereka berdua yang tampil dalam kisah-kisah menarik perburuah harta karun peninggalan VOC, ada banyak tokoh, ada banyak manusia yang terlibat, bahkan ada banyak rentetan sejarah yang simpul-menyimpul membangun sebuah logika cerita dengan sebuah kata kunci, bahwa realitas hari ini tidak ada bedanya dengan realitas masa kolonialisme Belanda.

Terlalu banyak nama disebutkan, sehingga ada kesulitan membaca kisah-kisah menarik ini. Pada satu sudut, kita beranggapan bahwa Kalek dan Batu adalah pemeran utama, tetapi bisa saja Meede yang menjadi Pemeran Utama, walaupun dia tidak banyak dibicarakan dalam kisah ini. Setelah Ayah Meede, Pieter Erberveld, dihukum mati oleh Zwaardecron, ia menghilang dan menjadi legenda. Bisa saja Cathlen Zwinckel, seorang mahasiswa Universitas Leinden, Belanda yang melakukan penelitian tentang sejarah kolonial di Indonesia, sebagai pemeran utamanya. Yang jelas, pembaca diajak bermain dengan logika cerita yang jarang atau malah belum pernah pembaca alami sebelumnya.

Buku yang diterbitkan pertamakali pada bulan Agustus 2007 ini, telah memeras banyak keringat penulisnya, buku ini rampung dalam kerja keras selama dua tahun, dan kerja keras selama itu seharusnya terbayar lunas dengan hadirnya sebuah karya brilian yang menawarkan ekspresi baru bagi para pecinta buku bacaan, utamanya Sastra.

E.S. Ito sangat menguasai apa yang dituliskannya, dia seorang penulis dengan penampilan sejarahwan, pada sudut lain, dia menampilkan wujudnya yang lain sebagai seorang wartawan, dan secepat mungkin berubah menjadi kelompok anarki. Kebosanan kita akan bacaan cengeng yang cenderung mendramatisir keadaan dengan ungkapan puitis, terbayar dalam buku ini. Sang empunya cerita, lebih banyak menyampaikan kritik kemanusiaan, kebudayaan, politik dan pemikiran. Sang penulis, menghindari pemborosan kosa kata dengan rangkaian kalimat romantis akan kondisi atau suasana dalam kisah, ia lebih banyak menceritatakan sejarah kolonialisme VOC dan berbagai strategi pemberontakan.

Kisah-kisah pencarian rahasia Meede, dimulai dengan prolog berlatar belakang Ronde Tofel Conferentie atau lebih dikenal dengan sebutan KMB (Konferensi Meja Bundar), dalam konferensi yang dilaksanakan 24 Agustus 1949 tersebut, Indonesia ( Republik Indonesia Serikat) akhirnya berdaulat dari cengkraman Belanda. Namun, semuanya tidak selesai sampai disitu, keputusan yang merugikan delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Bung Hatta, harus menerima kenyataan, bahwa Indonesia harus menanggung hutang Hindia Belanda sebesar 4,3 miliar gulden, setara dengan 1,13 Miliar dollar Amerika.

Dan kisah-kisah petualangan pun dimulai. Dengan menggunakan instrument sejarah kolonial, para pengejar Rahasia Meede dipandu untuk sampai pada sebuah penemuan yang mampu merusak tatanan Negara Indonesia, bahkan dunia, karena dengan penemuan itu, Dollar dapat terancam jatuh.

Alur cerita disusun dengan sangat cerdik, pembaca tidak hanya disuguhkan bacaan nikmat dan reflektif, akan tetapi diajak mengelilingi nusantara dengan pemandangan kolonialisme. Bentangan masa kolonialisme dan masa kebebasan nusantara sekarang, dihubungankan oleh sebuah tali sejarah yang menjadikan manusia Indonesia tidak boleh luput dari pengalaman buruk selama 350 tahun. E.S Ito dengan piawai menyampaikan, bahwa:

“Keuntungan Kolonial tidak lagi mengalir dari tanam paksa, tetapi dari mulut bawel manusia Indonesia lewat tarif pulsa”. 

Penasaran ingin membaca novelnya? tenang anda bisa membacanya secara gratis disini, silahkan klik < Baca Buku Rahasia Meede >
Read More..

Kamis, 01 Agustus 2013

Buku Komunikasi Untuk Inovasi Pedesaan ditulis oleh Cees Leeuwis dengan kontribusi dari Anne van den Ban tentunya menarik untuk dijadikan bacaan untuk membantu para fasilitator pembangunan untuk mengembangkan pedesaaan, khususnya untuk penyuluhan pertanian. Silahkan baca bukunya disini;

Read More..

Selasa, 30 Juli 2013

Review Buku Kembang Kertas; Ijinkan Aku Jadi Lesbian karya Eni Martini

Mengangkat tema lesbian (atau baca juga: homoseksualitas) sebagai sebuah karya Sastra bukan lagi sesuatu yang sulit dijumpai. Karenanya kehadiran buku-buku bertema lesbian dan homoseksual patutlah dihargai sebagai ekspresi demokratik yang lama ditindas selama Orde Baru berkuasa. Buku berjudul Kembang Kertas; ijinkan aku jadi lesbian karya Eni Martini adalah salah satu bentuk maraknya wacana seks sesama jenis.

Novel berjudul Kembang Kertas-Ijinkan Aku Menjadi Lesbian- karya Eni Martini. Kembang Kertas bercerita seorang perempuan keturunan Ningrat Yogyakarta, cantik, berpendidikan tinggi, lulusan Amerika Serikat, namun orientasi seksualnya adalah lesbian. Perempuan cantik yang lesbi ini bernama Kartini, dan juga lebih suka dipanggil Kartini saja dari pada panggilan keningratan, setidaknya mengingatkan kita pada tokoh Kartini, putri yang memberontak dari Jepara itu. Hanya sayangnya, di tengah gerakan yang meluas untuk demokratisasi di segala bidang, termasuk penghargaan terhadap hak-hak demokratik kaum LGBT itu, Eni Martini terasa tak sanggup mengikutinya. Justru yang tampil adalah Kartini yang berjiwa naif, kekanak-kanakan, mencoba menerima nasib walau menderita dengan alasan karena lahir sebagai putri ningrat yang harus berusaha tunduk pada unggah-ungguh- adat-istiadat- dan menjaga kewibawaan Orang Tua.

Di Amerika, tempat Kartini bebas hidup sebagai lesbian bersama kekasihnya Juliet, justru hanya menjadi seakan mimpi yang tak akan mungkin dapat diraihnya di sini dan sekaligus dapat diperjuangkan di sini. Karenanya Kartini dalam novel Kembang Kertas, Eni Martini justru menjadi perempuan fatalis dan dalam kaca mata terpelajar menjengkelkan: childish. Ia yang berpendidikan tinggi dan berpengalaman sebagai lesbian di Amerika Serikat, justru tak sanggup mengekspresikan dirinya dengan lebih terbuka atau setidaknya membangunkan gerakannya seperti yang sudah kelihatan tumbuh.

Militansinya tentu tak seperti Kartini yang bisa mengatakan Habis Gelap Terbitlah Terang…seperti juga digambarkan dengan baik dalam film Kartini, sutradara Sjumandjaja tahun 1982; atau sungguh menolak ornament kebangsawanannya: Panggil Aku Kartini Saja seperti yang telah banyak diulas Pramoedya Ananta Toer. Kartini, Eni Martini, justru kabur dari kondisi obyektif yang membelenggunya, meninggalkannya tanpa perlawanan dan kembali ke Amerika Serikat yang dirasa lebih terbuka dan bebas menerima orang-orang seperti dirinya.
Keberaniannya hanya ditunjukkan dengan pengakuan yang jujur bahwa dirinya sebagai lesbian yang tak suka tiyang jaler (lelaki) di hadapan Orang tuanya. Dan setidaknya juga pembelaan terhadap Nadia, teman sekerjanya, yang dulunya sering mendapat penghinaan karena lesbi, berkat pembelaannya yang singkat bahwa Lesbian juga manusia, akhirnya dapat menyadarkan banyak teman kerja untuk menerima Nadia apa adanya. Subjudul novel ini sendiri sebenarnya sudah menunjukkan kelemahan posisi: Ijinkan Aku Menjadi Lesbian…? Mengapa harus minta ijin? dan siapa yang berhak dan harus mengijinkan? Bila pilihan demokratiknya seperti itu..?

Novel Kembang Kertas tak terlalu sulit untuk dibaca dan dicerna. Alurnya sederhana dengan bahasa dan kata-kata sederhana sehingga dapat dibaca dengan cepat. Kelemahannya yang mencolok adalah pada buruknya pengeditan. Masih banyak kata-kata yang ditulis dengan huruf yang salah. Di samping itu, penggunaan subyek dan predikatnya dalam kalimat kadang mengganggu dan tidak mengenakkan selera membaca.

Pada alinea pertama, halaman 1, pembaca dapat melihat kalimat yang berantakan tak tersusun dengan baik. Misalnya: “Sudah lama Kartini tidak berbaur dengan keluarga, famili dan teman-temannya dalam suasana pesta adat Jawa yang penuh ungah-ungguh, tata krama.” (seharusnya Unggah). Kalimatnya selanjutnya begitu jelek seperti tak mengenal hukum subyek dan predikat dengan baik: “Maka saat Si’Bu mengadakan pesta kecil-kecilan, atau lebih sering disebut selamatan oleh masyarakat Jawa. Pesta dalam rangka menyambut kedatangannya dari Boston, serta syukuran atas selesainya studi dia. Kartini cukup antusias menyambutnya, karena selain akan bertemu dengan orang-orang yang dicintai. Ada pesta, pasti ada kue tradisional aneka ragam. Serabi, nogosari, cenil, lemper, klepon, dan kue-kue jajan pasar lainnya.”

Eni Martini, lahir di Jakarta tahun 1977, novel-novel sebelumnya yang telah diterbitkan antara lain: Sehelai Daun Kapuk Randu (2003), Relasi Kata Tanpa Rupa (2005), Miss Diena The Series (2006) dan Benang Tiga Perempuan (2007). Di atas kelemahan tata bahasa dan salah-salah huruf, Novel ini setidaknya memberikan fakta adanya kehidupan lesbian yang masih tertindas secara, sosial, kultural dan politik. Karenanya buku ini juga layak untuk diketahui dan dibaca sebagai sikap moral sehingga bisa menemukan jalan keluar yang…, meminjam kata-kata seruan perlawanan Nyai Ontosoroh, Pramoedya Ananta Toer, … Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Untuk memiliki buku Eni Martini ini secara gratis, silahkan Download Disini

Review ini disunting dari resensi buku dengan judul resensi  Fatalisme “Kartini” Kembang Kertas oleh AJ Susmana.
Read More..

Kamis, 25 Juli 2013

Download Buku Biografi di bawah ini. Silahkan klik download link untuk memulai proses download buku. Biografi yang kami sediakan masih kurang, namun akan diperbanyak lagi koleksi untuk buku biografi tokoh yang lainnya.


Biografi Hamka
Download

biografi inggit ganarsih
Download


40th Oom pasikom G.M Shidarta dan J. Oetama
Download


Valentino Rossi - Otobiografi Lengkap
Download

Pramoedya Ananta Toer
Download 


DOWNLOAD SERI PROFIL TOKOH KONTEMPORER 
Agus Salim
Download


Hugo Chaves
Download

GW Bush
Download

Mahmoud Ahmadinejad
Download

Mahatir Mohamad
Download

Rohullah Khomeini
Download
Adolf Hitler
Download
Read More..

Kamis, 18 Juli 2013

Judul Buku:Tanah Tabu
Penulis : Anindita S. Thayf

"Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah." Mabel percaya takdir akan berakhir buruk jika kita tidak menjaga langkah, apalagi bagi perempuan seperti dirinya. Tapi Mace, sang menantu, belum bisa melupakan trauma pada masa lalu. Sementara Leksi, cucu kesayangan Mabel, masih suka semaunya sendiri. Beruntung ada Pum dan Kwee yang bisa diandalkan. Bersama keduanya, si kecil Leksi berlajar menjalani hidup yang keras di atas Tanah Tabu. Dan, pada kita semua, Mabel berpesan, "Kita harus tetap kuat.... Jangan menyerah. Terus berjuang demi anak-cucu kita. Mereka harus mendapatkan kehidupan yang lebih baik." 
 
Novel ini mengisahkan kehidupan masyarakat Indonesia di Papua yang tetap dijerat kemiskinan walaupun sebenarnya sumberdaya alam disana sangat kaya. Suku Dani yang digambarkan dalam novel ini yang desanya terletak tidak jauh dari perusahaan penambang emas. Namun sayang, antara kekayaan perusahaan penambang emas dengan kehidupan masyarakatnya berdiri tembok besar yang memisahkan mereka.
 
Tokoh yang dimunculkan dalam novel ini adalah sebuah keluarga yang terdiri dari Mabel, Mace (menantu Mabel) dan leksi, serta dua ekor binatang peliharaannya yaitu seekor anjing yang diberi nama Pum dan seekor babi dengan nama Kwee.

Leksi dalam cerita ini adalah seorang gadis kecil yang cerdas, yang karena kecerdasan dan keluguannya sebagai anak kecil tergambar seperti sebuah kritikan bagi pemerintah bangsa ini. Hal itu terlihat ketika dia bercerita tentang kondisi sekolahnya yang sangat memprihatinkan padahal tidak jauh dari kampungnya berdiri perusahaan besar yang mengeksploitasi kekayaan alam.
 
Kemudian tokoh Mabel, dalam novel ini juga diceritakan sebagai seorang perempuan yang cerdas yang didapatnya ketika menjadi pembantu keluarga orang asing bernama tuan Piet dan Nyonya Hermine. dirumah tuan Piet itu, Mabel punya banyak kesempatan membaca, sehingga dia punya pengetahuan lebih dibanding kebanyakan warga kampung.
 
Namun karena kecerdasannya itu Mabel sering dicurigai sebagai pemberontak sehingga pernah ditangkap, meski akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti.
 
Kemudian tokoh Mace, adalah menantu Mabel dan ibu dari Leksi, yang dicampakkan suaminya karena pernah diperkosa oleh dua orang laki-laki asing ketika pulang dari kebun suatu siang.
 
Novel ini diceritakan dari sudut pandang Leksi, Pum dan Kwee yang menceritakan kehidupan mereka silih berganti. Membaca novel yang ditulis dengan apik dan menjadi Pemenang I sayembara Novel DKJ 2008 ini, membawa kita seolah-olah melihat kehidupan negeri kita pada umumnya. Dan ini sangat bagus untuk pencerahan pemikiran kita.
 
Download ebook belum tersedia (Mohon Maaf)
Read More..
FOOTER