Tampilkan postingan dengan label dwilogi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dwilogi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 September 2013

Andrea Hirata tampil lebih gila dan kejam dalam dwilogi Padang Bulan (entah bagaimana aksinya pada Cinta di Dalam Gelas). Sebelum mampu menaksir arah atau alur cerita, dia sudah membunuh seseorang dengan sangat menyedihkan, Ayah Enong mati tertimbun, kematian Ayah Enong sungguh menyisakan kesan yang sangat dramatis. Dan kegilaan Andrea Hirata semakin menguasai saya.

Drama penuh kesedihan dan kesengsaraan Andrea tidak terus berlanjut hingga akhir ceriteranya di Padang Bulan, ia meletakkan kisah tentang percintaan Ikal dan A Ling, dan kisah yang diceritakan persoalan cinta mereka sangat besar porsinya.

pembaca akan berpikiran bahwa Padang Bulan adalah novel yang akan membicarakan kenyataan hidup yang menyedihkan, kisah kehidupan Enong sebagai Pendulang Timah wanita pertama, atau kisan tentang Bahasa Inggris yang diminati Enong. Tapi ternyata tidak, tidak sama sekali.

Andrea Hirata sangat kejam, ia membunuh seorang yang berhati mulia (ayah Enong) untuk menarik simpati pembaca agar semua ceriteranya habis terbaca. Disinilah kegilaan Anrea dalam pikiran saya, bahwa Andrea tidak lagi mengacuhkan mana kesedihan, mana kesengsaraan, mana cinta, mana perhatian kasih sayang, mana kebahagiaan, dan dimana api pembangkit semangat. ia mencampur-aduknya menjadi satu dalam kenyataan sebuah novel.

Disini pulalah kekaguman saya dengan Andrea, Sangat picik dalam menyampaikan cerita menjadikan saya merasa lelah karena terombang ambing oleh perasaan yang menghantam saya saat menemukan kalimat baru yang sangat menarik. Diaantara kalimat-kalimat yang dihamburkan Andrea, hati saya mendapati tiga kata bahasa Inggris yang sangat berkesan, yaitu Sacrifice, Honesty, Freedome.
Bukan karena kata itu baru aku tahu artinya sebagaimana Enong, bukan pula karena saya memang senang dengan kata-kata yang mengandung nuansa perlawanan, namun karena kata itu ditembakkan oleh andrea kepada saya pada saat yang tepat, perlu diingan bahwa kadang sesuatu itu tergantung pada ketepatan waktu bukan takdir.
Read More..

Senin, 12 Agustus 2013

“Ia adalah lelaki yang baik dengan cinta yang baik. Jika kami duduk di beranda, ayahmu mengambil antip dan memotong kuku-kukuku. Cinta seperti itu akan dibawa perempuan sampai mati”

Jika dikatakan bahwa novel ini (dwilogi Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas) untuk mejawab rasa penasaran sebagian besar pembaca karena kisah di dalam Maryamah Karpov tidak tuntas memang ada benarnya. Novel kedua yang berjudul Cinta di Dalam Gelas menurutku justeru lebih pantas diberi judul tersebut. Di novel inilah sepak terjang Maryamah digambarkan dengan jelas bukan hanya sekilas seperti dalam Maryamah Karpov.

Jika dibandingkan dengan tetralogi sebelumnya, dwilogi ini terasa lebih nakal. Andrea membebaskan dirinya untuk bermain-main dengan bahasa yang lebih berani. Ini bisa dimaklumi mengingat spirit awal penulisan tetralogi Laskar Pelangi adalah sebagi persembahan kepada guru tercinta mereka Bu Muslimah. Sedangkan dwilogi ini sepertinya memanfaakan momentum dan latar Laskar Pelangi sebagai dasar cerita saja sehingga Andrea memiliki sedikit beban moral untuk bersantun dalam bahasa.

Novel ini masih mengusung tema pergulatan seseorang yang tidak kenal menyerah dalam mengatasi kesulitan hidup. Dia yang sudah miskin secara struktural menjadi lebih terhimpit lagi ketika nasib tidak berpihak kepada dirinya. Ketika sandaran hidup mereka justru menginggalkan mereka maka dialah yang harus berjuang untuk melepaskan atau menahan himpitan kemiskinan tersebut.

Hebatnya diantara pergulatan melawan himpitan kemiskinan tersebut dia masih memiliki resolusi hidup atau semacam life list (hal-hal penting yang ingin mereka capai dalam hidup) yang justeru melampaui status/kondisi sosialnya. Bayangkan seorang penambang timah tradisional memiliki keinginan dan kegigihan yang tinggi untuk belajar Bahasa Inggris. Meskipun untuk itu dia harus menempuh jarak sejauh 100 km di akhir pekan ke tempat kursus.

Kesan yang mendalam dan mengaduk-aduk emosi justru kita temukan di awal, Mosaik 1 yang berjudul Lelaki Penyayang. Dari sebuah narasi menggelikan yang membuat kita terkekeh (terutama jika kita pernah menaksir lawan jenis di usia remaja) berakhir dengan tragedi menyedihkan yang mebuat mata kita berkaca-kaca. Kejutan yang seharusnya menjadi saat paling membahagiakan bagi sebuah keluarga sederhana justeru berubah menjadi kejutan akibat malapetaka.

Kisah Enong (nama panggilam Maryamah) saja sebenarnya layak dijadikan tema sentral Padang Bulan. Sementara kisah cinta Ikal dangan A Ling justeru menjadikan novel ini terasa bertele-tele. Nampaknya Andrea hendak memuaskan pembacanya sekaligus. Pertama rasa penasaran pembaca tentang Maryamah. Yang kedua akhir dari kisah cinta Ikal dan A Ling.

Bagi mereka yang belum pernah membaca Laskar Pelangi beberapa bab/mosaik akan terasa membingungkan karena dia memakai alur balik. Beberapa bab/mosaik itu menceritakan saat-saat Ikal masih bersekolah di Sekolah Dasar.

Seperti yang dikatakan Andrea Hirata ini adalah novel kultural yang hendak memotret kehidupan orang Melayu (Belitong). Hal itu tergambar secara sempurna dalam novel kedua Cinta di Dalam Gelas. Orang Melayu yang memiliki budaya lisan sangat tinggi menemukan tempat yang pas untuk “melestarikan” budaya tersebut di warung kopi. Lihatlah bagaimana penasarannya seorang isteri tentang rasa kopi dari warung kopi yang katanya lebih enak dari kopi buatannya. Kemudian diam-diam dia membeli kopi dari warung kopi dan membawanya pulang dengan harapan suaminya tidak ngopi di warung. Tapi apa kata suaminya, kopi tersebut tidak seenak kopi buatan warung kopi.

Di novel kedua inilah Maryamah mendapatkan nama belakang Karpov karena memakai metode pertahanan permainan catur ala Anatoly Karpov. Maryamah memakai permainan catur sebagai medium perlawanan terhadap hegemoni atau kesewenang-wenangan beberapa orang (lelaki) terhadap dirinya di masa lalu. Kesewenang-wenangan yang mengakibatkan trauma berkepanjangan dalam hidupnya. Dengan kemenangan dari permainan catur itulah Maryamah mengusir trauma yang menghantui hidupnya sekian lama.

Dua buah novel yang digabung menjadi satu (bundling) terhitung sebagai hal baru bagi dunia buku Indonesia, setidaknya dalam kurun terakhir ini. Dengan harga 76.500 (toko buku) atau 65.025 (toko buku online) terbilang cukup murah untuk novel yang lumayan tebal ini (lebih tebal dari Laskar Pelangi).

Resensi ini disunting dari Sini .
Read More..

Sabtu, 10 Agustus 2013

Novel Padang Bulan sebagai novel pertama pada dwilogi Padang Bulan masih mengusung tema pergulatan seseorang yang tidak kenal menyerah dalam mengatasi kesulitan hidup (lebih banyak diceritakan pada Cinta di Dalam Gelas) dibandingkan pada Padang Bulan. Kenyataan yang dialami oleh sebuah keluarga miskin menjadi sasaran yang memang empuk untuk sebuah drama, dan salah satu keluarga yang dramatis itu adalah keluarga Zamzami (ayah Enong).
Enong dengan nasib yang kurang beruntung (di mata banyak orang yang mengutamakan uang dari segala hal), menjadi tokoh yang dihadirkan untuk mengaduk zat kimiawi dalam hati para pembaca, semangat hidupnya, semangat belajarnya dan semangat perempuannya sungguh mengagumkan.

Himpitan kemiskinan bukan batu sandung bagi Enong (nama kecil Maryamah), tersebut dia masih memiliki resolusi hidup atau semacam life list (hal-hal penting yang ingin mereka capai dalam hidup) yang justru melampaui status/kondisi sosialnya. Bayangkan seorang  perempuan (pertama) penambang timah tradisional memiliki keinginan dan kegigihan yang tinggi untuk belajar Bahasa Inggris. Meskipun untuk itu dia harus menempuh jarak sejauh 100 km di akhir pekan ke tempat kursus.

Kesan yang mendalam dan mengaduk-aduk emosi justru kita temukan di awal, Mosaik 1 yang berjudul Lelaki Penyayang. Dari sebuah narasi menggelikan yang membuat kita terkekeh (terutama jika kita pernah menaksir lawan jenis di usia remaja) berakhir dengan tragedi menyedihkan yang mebuat mata kita berkaca-kaca. Kejutan yang seharusnya menjadi saat paling membahagiakan bagi sebuah keluarga sederhana justeru berubah menjadi kejutan akibat malapetaka.

Seperti yang dikatakan Andrea Hirata ini adalah novel kultural yang hendak memotret kehidupan orang Melayu (Belitong). Hal itu tergambar secara sempurna dalam novel kedua Cinta di Dalam Gelas. Orang Melayu yang memiliki budaya lisan sangat tinggi menemukan tempat yang pas untuk “melestarikan” budaya tersebut di warung kopi. Lihatlah bagaimana penasarannya seorang isteri tentang rasa kopi dari warung kopi yang katanya lebih enak dari kopi buatannya. Kemudian diam-diam dia membeli kopi dari warung kopi dan membawanya pulang dengan harapan suaminya tidak ngopi di warung. Tapi apa kata suaminya, kopi tersebut tidak seenak kopi buatan warung kopi.

Di novel kedua inilah Maryamah mendapatkan nama belakang Karpov karena memakai metode pertahanan permainan catur ala Anatoly Karpov. Maryamah memakai permainan catur sebagai medium perlawanan terhadap hegemoni atau kesewenang-wenangan kaum lelaki terhadap dirinya di masa lalu. Perlawanan ini menempatkan Maryamah pada jajaran perempuan ideal yang bertarung dengan gaagah berani guna membuktikan eksistensi dirinya.
Dalam novel kedua, Cinta di Dalam Gelas, romantika Ikal dan A Ling digantikan oleh romantisme keluarga Maryamah, berikut beberapa petikan yang sangat manis;

“Jika kuseduhkan kopi, ayahmu menghirupnya pelan-pelan lalu tersenyum padaku”. Meski tak terkatakan, anak-anaknya tahu bahwa senyum itu adalah ucapan saling berterima kasih antara ayah dan ibu mereka untuk kasih sayang yang balas membalas, dan kopi itu adalah cinta di dalam gelas.
Read More..
FOOTER