Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Oktober 2013

Kalian adalah laskar mawarku yang akan meluluhlantakkan tank-tank Israel!” seru Yasser Arafat pada pagi 27 Januari 2002.

Sore harinya, untuk pertama kalinya seorang perempuan melakukan aksi bom bunuh diri. Perlawanan rakyat Palestina memasuki babak baru.

Dalam derita penjajahan Israel, telah lama perempuan Palestina menjadi pejuang yang tangguh dan tabah. Mereka adalah anak yang menyaksikan ayahnya ditawan, istri yang merelakan suaminya hilang tanpa jejak, ibu yang menguburkan putranya. Namun, sejak hari itu, sebagian perempuan Palestina menempuh jalan perjuangan baru. Mereka memilih meledakkan diri sebagai “laskar mawar”.

Barbara Victor, seorang jurnalis spesialis Timur Tengah dan isu-isu perempuan, mengajak kita menyelami kehidupan perempuan-perempuan pelaku bom bunuh diri itu. Dia meninjau berbagai aspek yang sering tenggelam dalam sensasi berita: kultur, psikologis, dan sosiologis perempuan Palestina.

Barbara membawa kita menyimak kisah-kisah getir dan konflik-konflik yang membuat “mawar-mawar” ini memilih untuk menggugurkan kelopak mereka sendiri dalam sebuah dentuman yang menyentakkan dunia yang tak mengizinkan mereka mekar.

Judul Laskar Mawar : Drama Perempuan-Perempuan Pelaku Bom Bunuh Diri di Palestina (Edisi baru)
No. ISBN 9789794335147
Penulis Barbara Victor
Penerbit: Mizan
Tanggal: terbit Juni - 2008

Read More..

Kamis, 05 September 2013

Judul resensi asli: Romantisme Tragis Dibalik Perang Bubat
 
Perang Bubat (buku Gajah Mada 4 oleh Langit Kresna Hariadi) adalah salah satu tonggak sejarah yang amat penting, kisahnya menjadi pewarna perjalanan Nusantara. (Perang Bubat) Perang yang mengawali kehancuran Majapahit itu menyisakan luka yang amat dalam bagi Jawa dan Sunda. Ini adalah akhir konflik kerajaan Majapahit dan Sunda Galuh, sekaligus kesalahan fatal Mahapatih Gajah Mada di akhir karier-nya yang gilang gemilang.

Sumber permasalahannya sebenarnya adalah kecantikan yang membawa luka. Adalah seorang sekar kedaton Sunda Galuh bernama Dyah Pitaloka Citraresmi memiliki kecantikan yang luar biasa yang terdengar hingga pelosok nusantara. Pada saat itu pula, Prabu Hayam Wuruk sudah cukup umur untuk memiliki seorang permaisuri. Tim intelijen dikerahkan untuk mencari gadis cantik yang cocok dijadikan isteri sang raja, dan salah satunya adalah Dyah Pitaloka.

Namun demikian, ketika antar keluarga saling menyetujui, Mahapatih Gajah Mada memiliki pemikiran lain. Ia memandang bahwa Sunda Galuh harus takluk saat itu juga dan Dyah Pitaloka dianggap sebagai putri seserahan, bukan sebagai calon isteri yang berderajat sama. Perang berkobar yang berujung pada bunuh dirinya Dyah Pitaloka, menyebabkan konflik pribadi Prabu Hayam Wuruk dengan Gajah Mada.

Mengapa Dyah Pitaloka Sampai Bunuh Diri?
Nampaknya tidak ada sumber sejarah yang menerangkan hingga detail apa motivasi Dyah Pitaloka bunuh diri. Pemahaman umum yang berkembang adalah karena putus asa karena semua keluarganya yang bertempur dengan gagah berani telah dibunuh pasukan Bhayangkara Majapahit. Celah ini, seperti ketika novel-novel bercerita tentang kisah cinta Gayatri (permaisuri Rajapatni — isteri Raden Wijaya/Kertarajasa Jayawardhana), dimanfaatkan oleh penulis untuk memasukkan drama romantis yang tragis.

Langit Kresna Hariadi, dalam novel Perang Bubat, mengisahkan bahwa Dyah Pitaloka sebenarnya sudah terlanjur jatuh cinta kepada seorang rakyat jelata bernama Saniscara. Saniscara telah menumpahkan perasaan cintanya dengan cara yang paling mengagumkan yang bisa dibayangkan wanita mana pun: lukisan. Goresan-goresan dalam kanvasnya ditorehkan dengan penuh gairah. Dan ternyata cinta yang paling murni dari dua anak manusia ini bersambut, tetapi tidak mungkin bersatu karena faktor politik dan kedudukan serta derajat yang berbeda. Ini memberikan ruang bagi pembaca untuk bereksplorasi tentang apakah cinta harus dihalangi oleh norma-norma seperti itu.

Saya membayangkan, biar bagaimanapun juga, Dyah Pitaloka adalah seorang putri raja. Saya membayangkan ia adalah gadis yang dewasa (kenapa novel selalu melukiskan putri raja itu cantik dan manja?). Ia menyadari ia adalah kunci politik yang berharga dalam hubungan diplomatik dua negara. Jika pernikahannya dengan Prabu Hayam Wuruk bisa menyelamatkan Sunda Galuh dari posisi takluk sebagai negara jajahan, ia akan menekan segala perasaan dan mengutamakan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan cinta pribadinya. Toh, Prabu Hayam Wuruk kan raja yang tampan juga.

Jika ternyata kemudian ia telah ditelikung, dicurangi oleh Mahapatih Gajah Mada, dan keluarganya habis terbunuh, harga dirinya lah yang membuat ia lebih baik mati daripada harus menjadi putri seserahan. Jika keluarganya telah bersikap patriotik heroik, mengapa ia tidak melakukan jalan yang sama? Berdasarkan ini, saya memaklumi putri Sunda yang cantik itu mengambil keris kecil dan menusuk dadanya sendiri.

Tinggal Prabu Hayam Wuruk yang termenung sendirian. Ia memang telah dibakar oleh cinta pada pandangan pertama. Bagaimana pun juga, ia adalah negarawan yang masih berusia pemuda. Masih bergejolak. Itulah awal konfliknya dengan Gajah Mada. Dan mundurnya Gajah Mada dari kancak politik membuat Majapahit tidak menemukan negarawan sehebat dirinya. Itulah awal kemunduran kejayaan Majapahit yang akhirnya runtuh dan digantikan rezim kerajaan-kerajaan Islam (Demak Bintoro).

Sumber resensi dari Sini
 
Download Ebook Gratis Disini
Read More..

Rabu, 21 Agustus 2013

“Ah, sebenarnya aku mau saja menyerahkan diri. Tetapi aku bingung, menyerahkan diri pada siapa? Sosok Negara tidak aku rasakan di Nusantara ini. Apakah ini sebuah Negara? Tidak, ini hanyalah sebuah sirkus dari pasar malam yang akan segera dilupakan. Kau melepaskan kebebasanmu jika menjadi warga Negara. Kau akan kehilangan logika jika percaya pada demokrasi dan perwakilan. Dan yang paling bodoh, kau akan kehilangan akal sehat jika member mandate pada badut-badut di senayan sana…".

Demikian sebuah pernyataan dalam percakapan antara Kalek dan Batu, Kalek mengeluarkan kata-kata itu dengan tenang sementara dia dalam kuasa Batu. Ungkapan Kalek tersebut juga menggambarkan bagaimana ke dua tokoh ini berperan dalam kisah Rahasia Meede, Batu adalah seorang Intelejen dan Kalek adalah seorang tersangka teroris.

Ke dua pemeran ini bermain atau dimainkan dengan cerdas dalam setiap kisah, ketika mereka berdua saling tarik-menarik logika kebenaran, dimana Batu sebagai Intelejen adalah penegak kebenaran dan Kalek adalah pendosa yang menebarkan anarki di pelosok Nusantara. Namun, apakah memang benar seperti itu, dimana tersangka atau pelaku teror adalah seorang penjahat yang harus diberangus, sementara aparat penegak hukum atau pembela kebenaran, adalah nabi dimana kebenaran bertumpu?.

Tentu bukan hanya mereka berdua yang tampil dalam kisah-kisah menarik perburuah harta karun peninggalan VOC, ada banyak tokoh, ada banyak manusia yang terlibat, bahkan ada banyak rentetan sejarah yang simpul-menyimpul membangun sebuah logika cerita dengan sebuah kata kunci, bahwa realitas hari ini tidak ada bedanya dengan realitas masa kolonialisme Belanda.

Terlalu banyak nama disebutkan, sehingga ada kesulitan membaca kisah-kisah menarik ini. Pada satu sudut, kita beranggapan bahwa Kalek dan Batu adalah pemeran utama, tetapi bisa saja Meede yang menjadi Pemeran Utama, walaupun dia tidak banyak dibicarakan dalam kisah ini. Setelah Ayah Meede, Pieter Erberveld, dihukum mati oleh Zwaardecron, ia menghilang dan menjadi legenda. Bisa saja Cathlen Zwinckel, seorang mahasiswa Universitas Leinden, Belanda yang melakukan penelitian tentang sejarah kolonial di Indonesia, sebagai pemeran utamanya. Yang jelas, pembaca diajak bermain dengan logika cerita yang jarang atau malah belum pernah pembaca alami sebelumnya.

Buku yang diterbitkan pertamakali pada bulan Agustus 2007 ini, telah memeras banyak keringat penulisnya, buku ini rampung dalam kerja keras selama dua tahun, dan kerja keras selama itu seharusnya terbayar lunas dengan hadirnya sebuah karya brilian yang menawarkan ekspresi baru bagi para pecinta buku bacaan, utamanya Sastra.

E.S. Ito sangat menguasai apa yang dituliskannya, dia seorang penulis dengan penampilan sejarahwan, pada sudut lain, dia menampilkan wujudnya yang lain sebagai seorang wartawan, dan secepat mungkin berubah menjadi kelompok anarki. Kebosanan kita akan bacaan cengeng yang cenderung mendramatisir keadaan dengan ungkapan puitis, terbayar dalam buku ini. Sang empunya cerita, lebih banyak menyampaikan kritik kemanusiaan, kebudayaan, politik dan pemikiran. Sang penulis, menghindari pemborosan kosa kata dengan rangkaian kalimat romantis akan kondisi atau suasana dalam kisah, ia lebih banyak menceritatakan sejarah kolonialisme VOC dan berbagai strategi pemberontakan.

Kisah-kisah pencarian rahasia Meede, dimulai dengan prolog berlatar belakang Ronde Tofel Conferentie atau lebih dikenal dengan sebutan KMB (Konferensi Meja Bundar), dalam konferensi yang dilaksanakan 24 Agustus 1949 tersebut, Indonesia ( Republik Indonesia Serikat) akhirnya berdaulat dari cengkraman Belanda. Namun, semuanya tidak selesai sampai disitu, keputusan yang merugikan delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Bung Hatta, harus menerima kenyataan, bahwa Indonesia harus menanggung hutang Hindia Belanda sebesar 4,3 miliar gulden, setara dengan 1,13 Miliar dollar Amerika.

Dan kisah-kisah petualangan pun dimulai. Dengan menggunakan instrument sejarah kolonial, para pengejar Rahasia Meede dipandu untuk sampai pada sebuah penemuan yang mampu merusak tatanan Negara Indonesia, bahkan dunia, karena dengan penemuan itu, Dollar dapat terancam jatuh.

Alur cerita disusun dengan sangat cerdik, pembaca tidak hanya disuguhkan bacaan nikmat dan reflektif, akan tetapi diajak mengelilingi nusantara dengan pemandangan kolonialisme. Bentangan masa kolonialisme dan masa kebebasan nusantara sekarang, dihubungankan oleh sebuah tali sejarah yang menjadikan manusia Indonesia tidak boleh luput dari pengalaman buruk selama 350 tahun. E.S Ito dengan piawai menyampaikan, bahwa:

“Keuntungan Kolonial tidak lagi mengalir dari tanam paksa, tetapi dari mulut bawel manusia Indonesia lewat tarif pulsa”. 

Penasaran ingin membaca novelnya? tenang anda bisa membacanya secara gratis disini, silahkan klik < Baca Buku Rahasia Meede >
Read More..

Sabtu, 10 Agustus 2013

Novel Padang Bulan sebagai novel pertama pada dwilogi Padang Bulan masih mengusung tema pergulatan seseorang yang tidak kenal menyerah dalam mengatasi kesulitan hidup (lebih banyak diceritakan pada Cinta di Dalam Gelas) dibandingkan pada Padang Bulan. Kenyataan yang dialami oleh sebuah keluarga miskin menjadi sasaran yang memang empuk untuk sebuah drama, dan salah satu keluarga yang dramatis itu adalah keluarga Zamzami (ayah Enong).
Enong dengan nasib yang kurang beruntung (di mata banyak orang yang mengutamakan uang dari segala hal), menjadi tokoh yang dihadirkan untuk mengaduk zat kimiawi dalam hati para pembaca, semangat hidupnya, semangat belajarnya dan semangat perempuannya sungguh mengagumkan.

Himpitan kemiskinan bukan batu sandung bagi Enong (nama kecil Maryamah), tersebut dia masih memiliki resolusi hidup atau semacam life list (hal-hal penting yang ingin mereka capai dalam hidup) yang justru melampaui status/kondisi sosialnya. Bayangkan seorang  perempuan (pertama) penambang timah tradisional memiliki keinginan dan kegigihan yang tinggi untuk belajar Bahasa Inggris. Meskipun untuk itu dia harus menempuh jarak sejauh 100 km di akhir pekan ke tempat kursus.

Kesan yang mendalam dan mengaduk-aduk emosi justru kita temukan di awal, Mosaik 1 yang berjudul Lelaki Penyayang. Dari sebuah narasi menggelikan yang membuat kita terkekeh (terutama jika kita pernah menaksir lawan jenis di usia remaja) berakhir dengan tragedi menyedihkan yang mebuat mata kita berkaca-kaca. Kejutan yang seharusnya menjadi saat paling membahagiakan bagi sebuah keluarga sederhana justeru berubah menjadi kejutan akibat malapetaka.

Seperti yang dikatakan Andrea Hirata ini adalah novel kultural yang hendak memotret kehidupan orang Melayu (Belitong). Hal itu tergambar secara sempurna dalam novel kedua Cinta di Dalam Gelas. Orang Melayu yang memiliki budaya lisan sangat tinggi menemukan tempat yang pas untuk “melestarikan” budaya tersebut di warung kopi. Lihatlah bagaimana penasarannya seorang isteri tentang rasa kopi dari warung kopi yang katanya lebih enak dari kopi buatannya. Kemudian diam-diam dia membeli kopi dari warung kopi dan membawanya pulang dengan harapan suaminya tidak ngopi di warung. Tapi apa kata suaminya, kopi tersebut tidak seenak kopi buatan warung kopi.

Di novel kedua inilah Maryamah mendapatkan nama belakang Karpov karena memakai metode pertahanan permainan catur ala Anatoly Karpov. Maryamah memakai permainan catur sebagai medium perlawanan terhadap hegemoni atau kesewenang-wenangan kaum lelaki terhadap dirinya di masa lalu. Perlawanan ini menempatkan Maryamah pada jajaran perempuan ideal yang bertarung dengan gaagah berani guna membuktikan eksistensi dirinya.
Dalam novel kedua, Cinta di Dalam Gelas, romantika Ikal dan A Ling digantikan oleh romantisme keluarga Maryamah, berikut beberapa petikan yang sangat manis;

“Jika kuseduhkan kopi, ayahmu menghirupnya pelan-pelan lalu tersenyum padaku”. Meski tak terkatakan, anak-anaknya tahu bahwa senyum itu adalah ucapan saling berterima kasih antara ayah dan ibu mereka untuk kasih sayang yang balas membalas, dan kopi itu adalah cinta di dalam gelas.
Read More..

Rabu, 07 Agustus 2013

Seorang wanita yang dikenal bernama Lidya, putri Komisaris Besar Densus Antiteror, terbunuh di kamar hotel esek-esek di Jakarta. Riantono, sang ayah, sangat murka. Dari tanda piramid yang terukir di ulu hati Lidya, dia mencurigai pembunuh putrinya adalah Kelompok Patriotik Radikal (KePaRad) yang ingin membalas dendam.
KePaRad diincar polisi setelah menyebarluaskan pesan bernada subversif di dunia maya. Mereka menyatakan Indonesia yang sudah terlalu korup harus segera dibubarkan dan digantikan dengan Negara Kelima. Bertekad segera membekuk mereka, Riantono menginterogerasi dua tersangka KePaRad yang berhasil dibekuk. Namun keduanya hanya memberikan teka-teki lima negara yang membuat polisi semakin bingung. Akibat dugaan keterlibatan anggota teroris, kasus pembunuhan yang seharusnya ditangani Inspektur Satu Rudi Djatmiko dari bagian Reserse diambil alih Detsus Antiteror.
Tetapi Rudi tidak menyerah begitu saja dan terus menyelidikinya secara pribadi. Namun sayang, belum sempat Rudi berbuat banyak, nasibnya berakhir sama dengan Lidya, dibunuh! Timur Mangkuto, polisi bagian data Detsus Antiteror, dituduh sebagai pembunuh Rudi yang merupakan sahabatnya sendiri. Demi untuk membalaskan kematian sahabatnya dan membersihkan namanya dari tuduhan pembunuhan, Timur Mangkuto bersama bekas pacar Rudi, Eva Duani seorang sejarawan, berusaha menyelidiki kasus pelik ini dengan memecahkan teka-teki lima negara KePaRad.
Dari penyelidikan tersebut, mereka menarik kesimpulan mengejutkan, wilayah Indonesia ternyata adalah bagian dari Atlantis yang telah tenggelam ribuan tahun silam. Dari sini semuanya menjadi sangat menarik. Dengan menggunakan pengetahuan sejarah, geografis, logika dan imajinasinya yang kuat, Es Ito (sang penulis) berhasil menghubungkan legenda Yunani, mitos Atlantis, serta sejarah Nusantara kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit.
Dengan meyakinkan dia menyatakan bahwa nenek moyang suku Minang adalah keturunan dari Alexander Agung, Keris Empu Gandring sebenarnya bukan keris sama sekali, dan yang paling hebat adalah teorinya tentang sebab tenggelamnya Atlantis yang dinyatakan karena meletusnya Gunung Krakatau ribuan tahun silam yang memicu berakhirnya jaman Es. Walaupun saya sangat menyukai “Negara Kelima” karena kehebatan penulisnya dalam mencampur sejarah dan legenda serta kritiknya yang tajam pada kepolisian yang dinyatakan sudah terlalu kotor, tetapi ada juga bagian-bagian yang menjadi kekurangan novel ini.
Beberapa peristiwa terkesan kurang logis (seperti berhasil lolosnya Timur Mangkuto karena kegoblokan Kapolda), teka-teki yang terlalu “sejarah” sehingga sulit dipahami, penjelasan bertele-tele seputar negara kedua sampai keempat yang sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan inti cerita, dan endingnya yang terkesan sangat biasa sehingga mementahkan ekspektasi pembaca. However, salut buat Es Ito!!

Resensi ini disunting dari Sini
Link Download Menyusul
Read More..
FOOTER